|
|
|
 |
 |
| e131 | : | X-TREME Sport Edition |
| e130 | : | Toys & Figure Edition |
| e129 | : | Modification Edition |
| e126 | : | Football Die-Hard Edition |
| e124 | : | Private & Confidential Edition |
| e122 | : | Jajanan Kaki Lima Edition |
| e121 | : | Aplaus Goes To Campus Edition |
| e119 | : | Indie Music Edition |
| e118 | : | Boys vs Girls Edition |
| e117 | : | I Love Sunday Edition |
| e114 | : | Leisure Time Edition |
| e113 | : | Street Culture Edition |
| e112 | : | Single Fighter Edition |
| e109 | : | Japanese Culture Edition |
| e105 | : | Special Anniversary Edition |
| e104 | : | Friendship Edition |
| e102 | : | Local Talent Edition |
| e97 | : | Self Improvement Edition |
| e94 | : | illustration Edition |
| e93 | : | Flower Power Edition |
| e90 | : | Living Room Edition |
| e86 | : | Food Trivia Edition |
| e85 | : | Urban Drive Edition |
| e83 | : | Rock ‘N’ Roll Edition |
| e80 | : | Online Games Edition |
| e78 | : | Sportainment Edition |
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
Home
> Edisi 100
> Fokus
> Bingkai
> Hi, My Name is Passion!
Hi, My Name is Passion!
Teks oleh Rene Suhardono Canoneo & Larasati Silalahi
Foto dari berbagai sumber
Secara singkat passion adalah segala hal yang kita sukai sedemikian rupa sehingga kita tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya. Sekarang tentunya tidak sulit memahami kegelian saya saat mendengar jawaban-jawaban “lucu” yang mengatakan kalau passion mereka adalah tidur, nonton DVD dan cari duit.

LEBIH lucu lagi saat tahu kalau yang punya passion tidur adalah seorang Manager Security; si pemilik passion nonton DVD adalah seorang VP (Vice President) Operations; si empunya passion cari duit adalah seorang broadcaster atau penyiar radio. Nah lo?
Passion itu sama seperti ketika kita sedang jatuh cinta, rasanya ingin selalu bertemu. Ketika anda bekerja sesuai dengan passion, anda sering lupa waktu, seringkali memikirkan bagaimana caranya agar bisa menaikkan kualitas pekerjaan anda. Sewaktu anda bertemu dengan orang yang dicintai, anda tiba-tiba menjadi orang yang tidak perhitungan. Begitu pula dengan melakukan passion.
Kita akan dengan senang hati bekerja extra mile misalnya lembur atau melakukan riset tambahan tanpa dibayar lebih. Bisa jadi anda cukup beruntung menjadi sebagian orang yang menemukan passion-nya lewat hobi, namun sekali lagi, hobi itu sendiri bukanlah passion. Memang mirip tapi tidak sama.
Dalam banyak kesempatan saya menanyakan soal yang satu ini kepada banyak orang. Sebagian kecil menjawab tidak punya passion, sebagian lain menjawab tidak perlu, sebagian besar menyebut hobi sebagai passion mereka, sisanya, yang saya sebut sebagai “the lucky few” cenderung paham, peduli dan bekerja sesuai passion mereka.
Tidak mudah menemukan passion untuk diri sendiri. Namun mencoba menemukannya akan jauh lebih baik daripada mengacuhkannya sama sekali, terlebih untuk pengembangan karier kita. Rata-rata profesional yang teguh dalam mencari karier sesuai passion mereka perlu waktu empat sampai delapan tahun untuk menemukannya. Saya sendiri perlu tidak kurang dari sembilan tahun dari total enam belas tahun pengalaman kerja untuk menemukan passion saya. Jadi tidak ada kata terlambat untuk hal yang satu ini.
Pernah ada yang mengomentari kalau diskusi passion sangatlah tidak penting dan tidak lebih sebagai luxury talk. Kalau sudah nganggur dua tahun, kata orang tersebut, tentu lebih relevan untuk kerja apa saja untuk survive. Well, saya hargai pendapat ini. Kalau benar perlu waktu dua tahun untuk cari kerja, tentu saya tidak akan mengatakan, “Jangan kerja di sana kalau itu bukan passion-mu.” Jalani saja apa yang perlu dikerjakan untuk survive, namun jangan pernah berhenti mencari passion kita.
Pada titik ekstrem lain, saya banyak berjumpa dengan para profesional senior yang telah bekerja lebih dari 20 tahun tanpa pernah tahu, apalagi merasakan, bekerja sesuai passion mereka. And these are not happy stories…
Ketika saya menjalankan profesi sebagai seorang Art Director, saya selalu merasa ada yang “kurang”. Bangun pagi, berangkat ke kantor, duduk di depan meja, membalas e-mail clients yang menumpuk, presentasi, leading projects, dan yang lainnya, tiba-tiba hanya menjadi sekadar rutinitas yang membosankan. Tidak ada semangat lagi, yang ada justru pemikiran yang perhitungan seperti, “Kalau saya lembur malam ini, dapat over time berapa ya?” Ketika perasaan ini muncul, saya sadar kalau ada sesuatu yang perlu saya temukan. Something that is more fulfilling!
Setelah panjang lebar membahas soal passion, mungkin sekarang anda jadi bertanya-tanya. Bagaimana cara menemukan passion? Pertama, passion datang dari hati yang tulus. Passion tidak perlu dicari namun sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Coba jadikan diri terbuka untuk tahu, merasakan dan jujur mengenai segala hal yang saat dikerjakan membuat hati kita lega, lepas dan gembira. Lupakan sejenak soal uang, jabatan dan atribut lain, itu hanya akan memperumit keadaan.
Keputusan untuk mengambil kesempatan menjadi seorang Radio Broadcaster tentunya mengajar saya untuk keluar dari zona nyaman. Pekerjaan yang sudah mapan ditinggalkan untuk pekerjaan yang bisa dibilang ‘tidak pasti’. Namun karena saya bekerja berlandaskan passion, materi siaran yang ditulis (dan akhirnya mengudara) banyak menarik perhatian orang, sehingga saya ditawarkan banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang mendatangkan pemasukan yang berkali-kali lipat dari pekerjaan sebelumnya. Passion first, money follows! Passion is attractive!
Kedua, perluas horizon. Ketemu dan diskusi dengan orang-orang yang mungkin bisa bantu, baca buku, pelajari bahasa asing baru, coba makanan baru, pergi ke tempat baru, miliki kebiasaan baru… cobalah segala hal! Nah, dalam hal ini, hobi mungkin bisa menjadi salah satu pilihan kegiatan untuk memperluas horizon. Hobi bisa saja menjadi jendela menuju ke arah passion kita tersebut. Ketika kita sibuk memperluas horizon, secara tidak langsung kita membangun networks. Hal ini akan menjadi sangat baik untuk proses pencarian pekerjaan yang sesuai dengan passion kita.
Tiga, don’t hold anything back, jangan nanggung dalam berupaya. Giving your 100% is always the way to go! Empat, be positive. Nggak perlu marah-marah dan sensitif kalau belum tahu passion-nya. Kesadaran bahwa masih harus tahu passion masing-masing adalah langkah pertama yang hebat!
Terakhir, nikmati prosesnya. Proses ini tidak ada finish line. Enjoy the journey itself. It’s all about self-discoveries. Sebelum bisa bilang I do only what I love doing, jangan pernah ragu mencoba banyak hal. Dan ya, anda bisa memiliki lebih dari satu passion. Passion bisa dikembangkan dari pekerjaan sekarang atau dengan cara lain. You don’t have to quit your job although it is also ok to quit if you are sure. Kuncinya ada pada diri sendiri. Masih bingung juga? Worry less, do more!
(Rene Suhardono Canoneo adalah pengembang program Career Coach di 87.6 Hard Rock FM Jakarta dan Bandung. Acara ini juga mengudara secara berkala di acara Pagi Jakarta yang disiarkan oleh O’Channel. Career Coach menyerukan keselarasan antara Passion-Purpose of Life–Motivation-Action dalam pengembangan karier dan kehidupan)
(Larasati Silalahi adalah seorang penyiar radio di 87.6 Hard Rock FM Jakarta yang memulai kariernya sebagai seorang Graphic Designer dan Art Director. Laras sangat mencintai dan aktif di dunia tulis menulis, MC, dan presenter pernah menjadi Editor-in-Chief untuk majalah nu:B dan sampai sekarang masih aktif menjadi kontributor majalah Her World Indonesia) |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
|
|