|
|
|
 |
 |
| e131 | : | X-TREME Sport Edition |
| e130 | : | Toys & Figure Edition |
| e129 | : | Modification Edition |
| e126 | : | Football Die-Hard Edition |
| e124 | : | Private & Confidential Edition |
| e122 | : | Jajanan Kaki Lima Edition |
| e121 | : | Aplaus Goes To Campus Edition |
| e119 | : | Indie Music Edition |
| e118 | : | Boys vs Girls Edition |
| e117 | : | I Love Sunday Edition |
| e114 | : | Leisure Time Edition |
| e113 | : | Street Culture Edition |
| e112 | : | Single Fighter Edition |
| e109 | : | Japanese Culture Edition |
| e105 | : | Special Anniversary Edition |
| e104 | : | Friendship Edition |
| e102 | : | Local Talent Edition |
| e97 | : | Self Improvement Edition |
| e94 | : | illustration Edition |
| e93 | : | Flower Power Edition |
| e90 | : | Living Room Edition |
| e86 | : | Food Trivia Edition |
| e85 | : | Urban Drive Edition |
| e83 | : | Rock ‘N’ Roll Edition |
| e80 | : | Online Games Edition |
| e78 | : | Sportainment Edition |
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
Home
> Edisi 119
> Fokus
> Urban
> Geliat Indie Musik Lewat Gigs Maker
Geliat Indie Musik Lewat Gigs Maker
Teks oleh Nur Azizah | Foto oleh M. Amir Imanuddin & Istimewa
Di sini para pencinta musik indie berkumpul, berekspresi bebas menyalurkan kreativitas mereka. Nggak tanggung-tanggung, kocek sendiri pun ikut dirogoh demi menyukseskannya.

SIANG itu matahari menunjukkan kesangarannya saat melintasi pendopo kampus USU, ada pemandangan yang nggak biasa. Punkers, hardcore kids, metal head dan penggemar aliran musik lainnya berkumpul, bernyanyi dan bergoyang bersama mengikuti irama lagu.
“Ini namanya gigs ,” ujar Tumpal, salah seorang awak Brainlesscrew.
Gigs merupakan konser musik berskala kecil yang digelar oleh band-band indie dari berbagai aliran. Disebut berskala kecil karena penyelenggaraan acaranya tidak disponsori oleh sponsor utama dengan dana yang besar layaknya konser-konser atau festival band yang terdengar gaungnya ke mana-mana. Biasanya gigs maker menyelengarakan gigs dengan mengumpulkan dana dari band - band itu sendiri ataupun dari distro dan clothing yang memiliki jiwa kebersamaan dalam musik indie.
Embrio kelahiran gigs di Indonesia tak lepas dari musik rock underground tanah air pada tahun ‘90-an. Tidak diketahui pasti kota mana yang memulainya, namun pada saat itu, gigs hanya merebak di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Karena pada saat itu gigs hanya menghadirkan aliran musik underground, tak heran orang mengidentikkan gigs merupakan acara musik cadas. Tujuannya pun dibuat sebagai wahana mengeskpresikan diri lewat musik dan diadakan di kafe-kafe atau garasi rumah.
Kini, gigs sering diadakan di area yang lebih luas, seperti pendopo, tanah lapang atau lapangan olahraga. Tapi tak tertutup kemungkinan, gigs juga kerap diadakan di studio musik. Cukup unik juga berjingkrakan di studio musik, penggemar yang tak mau kalah ikut berjingkrak di ruangan yang berkapasitas terbatas untuk acara musik. Spontan suasana intim, santai, dan lebih komunikatif tercipta dan diselingi canda tatkala kesalahan teknis seperti salah setting kord, gitar fals, senar putus, atau cymbals yang roboh menghampiri band yang sedang manggung. A lot of fun!
Lain Gigs Maker Lain Konsepnya
“Beda komunitas, beda pula genre musik yang ada di suatu gigs ,” ujar Dedy Jenggod, kru Kolektif Youth pada Aplaus. Misalnya saja orang-orang yang suka musik punk, hardcore, metal core, biasanya menggelar gigs yang menampilkan band-band beraliran serupa. Crowd yang hadir juga sealiran de-ngan genre musik itu. Tapi ada juga gigs maker (baca: penyelenggara gigs ) yang menggelar gigs tak terfokus pada satu musik tertentu.
Di Medan sendiri ada banyak gigs maker. Dunia gigs maker ibarat kata pepatah, ‘patah tumbuh hilang berganti‘. Susah untuk mendeteksi keberadaannya karena kemun-culannya pun nggak digaungkan layaknya penyelenggara festival band besar. Namun, Aplaus berhasil menelusuri keberadaan beberapa gigs maker yang masih eksis menggelar gigs di Medan.
Brainlesscrew
Brainlesscrew merupakan gigs maker yang menyelenggarakan Noisefest. Noisefest sendiri berarti berisik, dalam artian suatu gigs yang menampilkan band-band yang berdistorsi.
Empat tahun lalu tepatnya, berawal dari sekadar nongkrong bersama, Tumpal dan kawan-kawan yang saat itu merupakan personel dari beberapa band bertekad membuat sebuah gigs yang menampilkan band-band Medan. Noisefest namanya. “Ada gigs pasti juga ada gigs maker. Kami pun menamakan diri Brainlesscrew,” cerita Tumpal malam itu.
Brainlesscrew sendiri nggak punya strukturisasi. Orang-orang yang direkrut juga berasal dari band-band yang pernah tampil di Noisefest. Gigs maker ini sering memproduksi aliran musik-musik cadas, seperti hardcore, punk, death metal, melodic hardcore, death core, melodic, metal core, crust grind, crust punk, death grind, pop punk, art punk, melodic rock, techno rock, dan crossover. Band - band seperti Fingerprint, Foredoom, H2R, Emosi Bangsa, dan lainnya sering juga tampil di sini. Dan biasanya Brainlesscrew memilih pendopo USU sebagai venue Noisefest .
Kirana
Kirana bukan seperti judul lagunya Dewa 19, tapi Kirana adalah nama sebuah gigs maker yang ada di Medan. Gigs maker yang diambil dari nama studio band dan apotek di Medan ini sudah ada sejak pertengahan 2001 silam.
Layaknya gigs maker, Kirana juga mengusung beberapa gigs yang cukup digemari di Medan. Di antaranya Lost in a Melody dan Noise Epic. Lost in a Melody adalah gigs yang sudah digelar tujuh kali sejak 2004. Konsep yang ditawarkan juga bukan menampilkan musik cadas. Dalam gigs ini hampir semua aliran musik indie turut menghibur pencinta musik Medan.
Saat Lost in a Melody berlangsung, nggak cuma band-band saja yang unjuk kebolehan. Dalam gigs ini juga ada DJ performance. DJ dalam gigs ini hanya memainkan musik indie dan lebih mengarah kepada music new order. Selain itu, digelar garage sale, yakni semacam ajang menjual barang-barang setengah harga, dan bukan barang-barang bekas pastinya. Tak ketinggalan pula pameran foto.
Sementara itu, Noise Epic juga merupakan gigs yang diselenggarakan oleh Kirana. Inilah salah satu gigs Medan yang memilih studio sebagi vanue -nya. Konsep Noise Epic juga lebih konsen ke band -nya saja, tidak seperti Lost in a Melody. Sejauh ini sudah tiga kali diadakan, dan terakhir diselenggarakan di Orange Studio beberapa bulan yang lalu.
Kolektif Youth
Anak-anak Kolektif Youth memang dikenal sering menggelar gigs yang menampilkan band-band beraliran cadas dari luar negeri. Terbentuk sejak April 2006, gigs maker ini lantas membuat gigs mereka yang pertama, Distorsounds namanya.
“Sebenarnya pada saat itu kami hanyalah kumpulan personel beberapa band, lantas ada booking agent yang menawarkan pada kami untuk membuat gigs yang menampilkan 7 Crowns, band asal Inggris. Barulah kami memutuskan untuk membentuk gigs maker, ya Kolektif Youth ini,” jelas Jenggot, panggilan akrab Dedy.
Sejak awal kemunculannya, Distorsounds sudah lima kali diadakan dan sifatnya - nggak regular. Crowd yang hadir juga banyak, biasanya sekitar 300 orang. “Bahkan pernah mencapai 600 orang,” kata Jenggod.
Tak hanya Distorsounds, gigs maker yang nggak punya strukturisasi ini juga membuat gigs - gigs lainnya. Sebut aja Hard Attack yang sudah tiga kali diadakan. Musik yang ditam-pilkan di gigs ini pun hanya punk dan hardcore musik. Maksimalkan Serangan, sudah dua kali diadakan dan aliran musiknya pun punk, hardcore, metal. Gigs yang terakhir mereka selenggarakan adalah Crazy Sha-dow, itu pun baru sekali digelar. |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
|
|